Ini Alasan Kenapa Kegemukan Bisa Merusak Otak

Thursday, March 8, 2012

 Jakarta, Peningkatan berat badan tidak hanya mengubah lingkar perut, tetapi juga dapat mengubah fungsi otak. Obesitas telah diketahui dapat meningkatkan risiko banyak penyakit termasuk kerusakan otak.


Hal tersebut diungkapkan oleh para peneliti berdasarkan hasil sejumlah studi. Kira-kira bagaimana proses obesitas dapat mempengaruhi fungsi otak?

Berikut 5 cara obesitas dapat mengubah fungsi otak seperti dikutip dari MyHealthNewsDaily, Kamis (8/3/2012) antara lain:

1. Obesitas merusak memori
Kegemukan mungkin dapat merusak memori, setidaknya untuk wanita setelah menopause. Sebuah studi telah mengamati nilai tes memori untuk 8.745 wanita dengan usia 65-79 tahun. Hasil studi tersebut telah diterbitkan dalam Journal of the American Geriatric Society edisi 14 Juli 2011.

Para peneliti menemukan peningkatan 1 angka dalam indeks massa tubuh (BMI) peserta wanita yang dikaitkan dengan penurunan 1 angka pada tes memori. Hormon yang dilepaskan oleh lemak dapat mengganggu memori. Hormon-hormon ini dapat menyebabkan peradangan, yang dapat mempengaruhi kognisi.

2. Perubahan perilaku makan saat stres
Ketika memiliki kelebihan lemak dan menjalani diet untuk menurunkan berat badan, seseorang dapat mengalami stres. Ketika merasa stres maka keinginan makan seseorang akan semakin bertambah. Sehingga keesokan harinya akan semakin banyak makan.

Diet dapat mengubah bagaimana respons otak terhadap stres. Hal tersebut berdasarkan sebuah hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam Journal of Neuroscience edisi 1 Desember 2011.

3. Obesitas meningkatkan risiko demensia
Memiliki timbunan lemak perut lebih dikaitkan dengan penurunan volume otak total dalam orang dewasa setengah baya. Hal tersebut disampaikan oleh para peneliti berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal Annals of Neurology.

Ada kemungkinan bahwa lemak dapat memicu peradangan, yang memberi tekanan pada tubuh dan mungkin mempengaruhi otak. Penemuan ini menunjukkan sesuatu yang khusus tentang lemak perut, juga yang dikenal sebagai lemak visceral.

Lemak visceral adalah lemak yang terletak di antara organ dalam rongga perut. Lemak visceral mungkin memainkan peran dalam mengurangi ukuran otak. Lemak visceral melepaskan profil unik dari hormon, yang dapat mempengaruhi tubuh dalam cara yang berbeda dari hormon-hormon yang dikeluarkan oleh lemak subkutan, atau lemak di bawah kulit.

Studi sebelumnya telah menemukan bahwa, orang dengan volume otak yang lebih kecil berada pada risiko tinggi untuk demensia, dan cenderung untuk melakukan hal yang lebih buruk pada tes kognitif.

4. Obesitas dapat membuat lebih impulsif
Pada anak obesitas, sebuah wilayah otak yang bertugas mengontrol impulsif, yang disebut korteks orbitofrontal, tampaknya menyusut dibandingkan dengan anak tanpa lemak.

Hal tersebut berdasarkan hasil dari sebuah penelitian yang telah dipresentasikan dalam pertemuan American Academy of Child and Adolescent Psychiatry di New York.

"Selain itu pada remaja dengan korteks orbitofrontal yang lebih kecil akan semakin besar kemungkinan untuk semakin impulsif. Namun hasil studi tersebut tidak membuktikan hubungan sebab akibat," kata para peneliti.

Obesitas diketahui menyebabkan perubahan pada sistem kekebalan, dan meningkatkan peradangan dalam tubuh. Peningkatan peradangan dapat mempengaruhi otak dan menyebabkan obesitas mengarah pada peradangan, yang merusak bagian-bagian tertentu dari otak. Pada gilirannya dapat menyebabkan makan lebih banyak dan semakin obesitas," kata peneliti Dr Antonio Convit , dari New York University School of Medicine.

5. Obesitas menyebabkan kecanduan makanan
Kenaikan berat badan dapat mempengaruhi otak untuk kesenangan yang didapatkan dari makanan manis dan berlemak. Sehingga obesitas dapat mendorong untuk makan kue lebih banyak. Efek yang sama terlihat pada pengguna narkoba, yang akhirnya membutuhkan lebih banyak kokain atau heroin dalam penggunaan jangka panjang.

Dalam studi yang telah dipublikasikan dalam Journal of Neuroscience, peneliti memindai otak wanita setelah minum milkshake. Para peneliti melihat minuman manis mengaktifkan daerah yang dikenal sebagai striatum.

Setengah tahun kemudian, para peneliti mengulangi percobaan pada wanita yang sama, beberapa di antaranya telah mengalami peningkatan berat badan.

sumber
detik.com
Continue Reading | comments

7 Kebiasaan Remaja yang Dapat Merusak Gigi

Jakarta, Ketika remaja, kondisi fisik sedang berada dalam tahap yang energik dan ingin mencoba banyak hal. Secara tak disadari, beberapa kebiasaan yang umum dilakukan remaja dapat berbahaya bagi kesehatan giginya. Sayangnya, kerusakan yang diakibatkan baru terlihat setelah jangka waktu yang lama.


"Ada banyak hal yang dilakukan remaja yang tampak tidak berbahaya namun mempengaruhi kesehatan mulut dan bisa mengakibatkan infeksi, sakit gigi atau bahkan komplikasi yang mengancam jiwa," kata Dr Doyle Williams, profesor di Tufts University School of Dental Medicine.

Seperti dilansir CBS News, Kamis (8/3/2012), berikut adalah 7 kebiasaan yang sering dilakukan remaja dan dapat merusak gigi.

Bulimia
Bulimia adalah gangguan mental di mana penderitanya memuntahkan kembali makanan yang telah ditelan dengan sengaja. Selain menyebabkan kerusakan fisik dan emosional, gangguan makan in sering menyebabkan kerusakan gigi yang luas. Penyebabnya adalah kandungan karbohidrat dan gula dalam makanan melemahkan dan mengikis email gigi. Asam lambung yang mengenai gigi juga dapat melarutkan email gigi juga memicu kerusakan gigi.

Maka, tidaklah mengherankan jika penderita bulimia sering mengunjungi dokter gigi untuk memperbaiki giginya berulang kali, terutama pada gigi yang terkena asam lambung.

Minum Air Kemasan
Minum air kemasan adalah cara yang nyaman untuk mengusir haus di mana saja, baik di sekolah atau di lapangan olahraga. Tapi, air kemasan tidak memiliki kandungan fluoride yang mencukupi. Fluoride membantu mencegah kerusakan gigi dan meningkatkan kesehatan mulut secara keseluruhan.

Jika remaja tidak minum air kemasan yang mengandung fluoride, sebaiknya menyikat gigi dengan pasta gigi berfluoride dan berkonsultasi dengan dokter gigi tentang prosedur yang disebut pernis fluoride. Dalam prosedur ini, fluoride diberikan pada gigi untuk mencegah pembusukan.

Mengunyah Tembakau
Beberapa remaja mengunyah tembakau tanpa dibakar seperti pada rokok. Entah apakah karena cara itu lebih aman untuk mendapat asupan nikotin selama berada di dalam kelas atau karena dianggap lebih aman daripada merokok. Yang jelas, mengunyah tembakau dapat menyebabkan masalah yang serius bagi kesehatan mulut.

Mengunyah tembakau mengandung pasir yang dapat menggores gigi dan mengendap di bawah enamel gigi. Kebiasaan ini juga menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan gusi dan mendorong struktur tulang sehingga menyebabkan gigi menjadi longgar dan tanggal.

Kerusakan gigi akibat kandungan gula dalam tembakau, serta perubahan warna gigi dan bau mulut juga disebabkan karena mengunyah tembakau. Dan yang paling menakutkan adalah kanker mulut. Sebab kanker mulut ini jauh lebih umum ditemui di kalangan pengguna tembakau tanpa asap.

Minum Jus Jeruk dan Minuman Olahraga
Jus jeruk dan minuman olahraga dapat menyebabkan kerusakan serius pada gigi. Sebabnya bukan hanya karena kandungan gula, tetapi juga karena sifat asam. Asam sitrat dan askorbat dalam minuman olahraga juga jus jeruk adalah yang paling sering menggerogoti enamel gigi. Remaja sering mengalami erosi enamel karena cenderung meminum minuman ini dalam jumlah banyak.

Air putih adalah cara terbaik untuk mengobati haus. Tetapi jika minum jus jeruk atau minuman olahraga, sebaiknya jangan terlalu banyak menahannya di dalam mulut tetapi minumlah cepat-cepat. Jika memungkinkan, berkumurlah dengan air sesudah minum jus jeruk atau minuman olahraga.

Mengenakan Perhiasan Mulut
Menindik bibir, lidah atau pipi dapat menyebabkan komplikasi parah. Ada banyak bakteri di dalam mulut manusia. Sejumlah besar bakteri sering masuk lewat lubang tindik dan menyebabkan infeksi.

Perhiasan untuk menindik itu sendiri juga dapat menjadi masalah. Jika tindikan merusak gusi karena sering bersentuhan, dapat menyebabkan penyakit gusi atau penyusutan gusi yang tidak pernah bisa tumbuh kembali. Satu penelitian menunjukkan bahwa hampir 50 persen orang yang mengenakan perhiasan mulut mengalami setidaknya satu gigi patah.

Mengunyah Es
Terkadang remaja mengunyah es untuk mengatasi kelaparan jika sedang diet atau tidak sempat makan karena jadwal yang sibuk. Beberapa remaja juga mengunyah es sebagai kebiasaan ketika merasa gugup.

Mengunyah es dapat menyebabkan kerusakan mikro pada gigi. Kerusakan ini dapat dilihat di bawah cahaya yang kuat dan menjadi saluran bagi bakteri untuk dapat masuk dan berdiam diri sehingga menyebabkan gigi berlubang. Kebiasaan ini juga meningkatkan peluang ini keretakan gigi.

Sering Memakai Pemutih Gigi
Remaja dibanjiri dengan iklan selebriti bergigi putih seperti mutiara dan senyum yang terlihat sempurna. Akibatnya, banyak remaja mencoba menggunakan produk pemutih gigi untuk mendapat senyum sempurna. Sayangnya, banyak di antara mereka yang tidak tahu kapan saatnya harus berhenti.

Terlalu banyak menggunakan produk pemutih gigi dapat mengikis gigi dan merusak enamel gigi. Akibatnya, gigi jadi terlalu sensitif terhadap makanan serta minuman panas dan dingin. Pemutihan gigi hanya bersifat sementara dan hanya boleh dilakukan dengan mengikuti pedoman dari produsen.

 Sumber:
Detik.com
Continue Reading | comments

Sport

Entertainment

World News

 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. Aula Kesehatan - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger